Sunday, December 25, 2016

Imoka Kota Tasik Goes To Pangandaran

Salah satu alasan saya memiliki personal blog adalah untuk mendokumentasikan kegiatan-kegiatan seru yang dilakukan biar menjadi kenangan di masa depan. Tipikal orang experience seeker seperti saya memang perlu media seperti blog karena saya tidak bisa menyimpan memori hanya di otak saja. 

Dalam postingan kali ini, inti dari tulisan saya hanya ingin bersyukur sebanyak-banyaknya kepada Tuhan yang sudah memberikan saya banyak kebahagiaan, banyak teman-teman yang asik, momen-momen seru, dan memberi saya sebuah pemikiran untuk menjadikan bersyukur sebagai budaya sehari-hari. Minimal diucapkan dan diresapi.



Hari Sabtu, 24 Desember lalu saya dan teman-teman Ikatan Mojang Jajaka (Imoka) Kota Tasikmalaya untuk yang pertama kalinya liburan bersama ke Pantai Pangandaran. Acara yang sudah diwacanakan sejak sebulan lalu ini, berjalan dengan lancar dan penuh dengan tawa.

Biar suatu hari kalau mau flashback momen ini saya nggak lupa, jadi saya mau tulis itinerary yang thankfully berjalan sesuai dengan rencana.

Sabtu siang, kami kumpul di Dinas Kebudayaan Pariwisata Pemuda dan Olahraga (Disbudparpora) Kota Tasikmalaya. Berangkat dengan dua mobil, awalnya kami menduga jalanan akan macet karena sedang musim liburan. Namun ternyata jalanan cukup lengang. Sampai di Pangandaran sekitar pukul 17:30, kami langsung bergerak ke penginapan yang sudah di-booking sebelumnya. 

Setelah beres-beres barang bawaan, kami main gitar dulu, nyanyi-nyanyi dan nge-bully orang-orang yang biasa di-bully. Saya nggak bisa sebutin siapa namanya, soalnya nanti dia baca, terus saya yang balik di-bully. Biarlah kami saja yang tahu.  

Salah satu acara favorit saya adalah waktu kami tukar kado di pinggir pantai. Kehangatannya bukan hanya dari api unggun saja, tetapi juga dari kebersamaan. Waktu itu, saya ngasih kado berupa tempat tissue yang terbuat dari bordir dan didapatkan oleh Angga. Sementara saya sendiri dapat seperangkat alat ala emang-emang gojek yaitu sarung tangan dan masker, dari Ferryan. Lumayan lah, balik modal! :D



Setelah beres momen api unggun, kami balik lagi ke Penginapan terus melakukan agenda selanjutnya yang PALING SERU. Kami main games bernama King Order. Duh, game ini seru banget dan bikin ketawa sampai sakit perut. Nanti deh kalau ada waktu dan ada mood, saya mau nyoba bikin video-nya di YouTube. 

Jam 11.00 PM, kami memutuskan untuk berhenti nge-King Order karena besok rencana mau lihat sunrise. Tapi lihat sunrise akhirnya dibatalkan karena... alasannya ambigu. Pokoknya nggak jadi.

Terus setelah matahari naik, kami siap-siap buat ke pantai. Kami naik perahu untuk ke Pasir Putih dan snorkling! Yang satu ini seru banget meski alat snorkling-nya nggak begitu nyaman dipakai. Oh ya, buat kalian yang mau snorkling di Pantai Pasir Putih Pangandaran sebaiknya hati-hati ketika kaki berpijak. Soalnya karang di sana cukup tajam. Beberapa teman saya waktu itu pun ada yang terluka. Tapi untungnya di pinggir-pinggir pantai ada sebuah pohon -yang saya nggak tahu namanya- dimana getah dari buahnya bisa dipakai untuk mengobati luka. 

Kata si Mang yang menyewakan alat snorkling, getah dari buah tersebut memiliki kandungan antiseptik yang tinggi. Keren banget ya Tuhan menciptakan buah kayak gitu di tempat yang rentan bikin orang terluka karena terkena karang. Tapi sayangnya getah dari buah tersebut nggak bisa ngobatin luka hati. Eeeeaaaa...

Satu lagi yang mau saya sampaikan jika kalian mencoba snorkling di Pantai Pangandaran tepatnya di Pasir Putih, hati-hati saat melakukannya. Jangan sampai terpisah dari rombongan soalnya kadang bisa terbawa arus dan melawan ombaknya cukup susah. Belum lagi, banyak perahu yang berlalu lalang. 

Saya dan beberapa teman hanya sekitar 1 jam snorkling, setelahnya memilih untuk duduk-duduk santai di pinggir pantai. Yang lain memilih berlama-lama di air dan asyik berfoto dekat sebuah kapal karam yang katanya dikomando untuk ditenggelamkan sama Menteri Kelautan dan Perikanan, Ibu Susi Pudjiastuti. Kalau kalian pengen lihat bukti kapal yang ditenggelamkan, coba saja datang ke Pantai Pasir Putih Pangandaran. Hebat nih Bu Susi. Saya ngefans!



Begitu sampai di penginapan, saya memilih untuk segera mandi. Sedangkan sebagian teman memilih untuk stay di Pantai dan mencoba banana boat. Dalam itinerary, kami akan pulang setelah makan siang dan ternyata bisa terlaksana. Di perjalanan pulang, hampir seluruh penumpang mobil memilih tidur. 



Anyway.. ada yang unik dari cara makan saya dan teman-teman sebelum balik ke Tasik. Jadi, kertas nasi yang biasanya dibagikan sebagai pengganti piring dibikin seperti piring besar memanjang sehingga kami makan bersama dalam satu tempat. Sebenarnya cara makan seperti itu tidak begitu aneh. Orang-orang yang tinggal di desa biasanya menggunakan daun pisang untuk tempat makan. Makan bersama seperti itu menjadi kultur yang memang sebaiknya tidak dilupakan.

Bersyukur dan berterimakasih sekali kepada Tuhan sudah diberi satu lagi momen seru dalam hidup di dunia. See you on the next exciting moment!

No comments:

Post a Comment