Tuesday, December 27, 2016

'Ngawangkong' Bersama Bu Netty

Hari Selasa (27/12) pagi, saya membaca ada informasi di grup Whats App Ikatan Mojang Jajaka (Imoka) Kota Tasikmalaya bahwa Ibu Netty Heryawan, istri dari Gubernur Jawa Barat, Bapak Ahmad Heryawan, ingin menggelar pertemuan bersama para anggota Imoka di Koka Cafe, Perum Bumi Resik Panglayungan (BRP) yang merupakan tempat usaha salah satu putranya.

Momen ngobrol bersama perempuan nomor 1 di Jawa Barat secara live tersebut bukan yang pertama kalinya bagi saya. Desember 2011 lalu, saya pun sempat mendengarkan 'studium generale' dari beliau ketika sedang berkunjung ke Tasikmalaya. Waktu itu, status saya masih sebagai wartawan di Koran Radar Tasikmalaya. Terkesan akan gaya bertuturnya yang santai namun berisi dari pertemuan sebelumnya, membuat saya mau meluangkan waktu untuk turut menjadi perwakilan Imoka dalam menghadiri undangan tersebut. 

Saya sebut acara 'ngawangkong' bersama Bu Netty sebagai studium generale karena memang ngobrol bersama beliau itu seperti kuliah umum yang sangat membuka wawasan. Namun pada momen kali ini, saya bisa menyimpulkan bahwa pembahasan yang dititikberatkan oleh Bu Netty ada kaitannya dengan peran beliau sebagai ketua Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2TP2A) Jawa Barat.



Begitu Bu Netty turun dari mobil Alphard warna hitam, beliau langsung disambut oleh kami, anggota Ikatan Mojang Jajaka (Imoka) Kota Tasikmalaya. Pertemuan ini bisa dibilang pertemuan nonformal. Begitu memasuki area kafe, Bu Netty memilih untuk duduk di luar yang berkonsep semi-outdoor, kemudian diikuti para anggota Imoka dan awak media. 

Pembahasan pertama yang dibicarakannya adalah tentang ibunya yang pernah tinggal di Tasikmalaya dan baru melakukan napak tilas. Bu Netty menjelaskan bahwa mengajak orang tua untuk flashback ke masa lalu itu sekali-kali perlu. Karena dengan begitu, orang tua menjadi lebih bergairah dan ceria jika dibandingkan hanya diam saja di rumah. "Perlu untuk dipertemukan kembali dengan teman sebaya dan teman-teman masa lalunya," ungkap perempuan yang lahir di Pacitan, 15 Oktober 1969 tersebut.



Kemudian pembahasan dilanjutkan tentang keperempuanan. Isu yang satu ini selalu menarik bagi saya. Satu suara dengan tulisan yang pernah saya tulis sebulan lalu: Perempuan, Kunci Kemajuan Bangsa, Bu Netty juga menjelaskan bahwa perempuan punya peran yang sangat signifikan dalam membawa nasib sebuah keluarga, bahkan nasib bangsa.

Seorang perempuan yang berkarakter dan berdaya, terutama dari segi pendidikan dan finansial mampu mencetak generasi yang lebih baik. Berpendidikan berarti berwawasan. Berwawasan berarti banyak tahu. Perempuan yang berpendidikan disertai dengan karakter yang positif maka tentu akan mampu menciptakan generasi yang lebih baik.

Di Indonesia, tidak sedikit perempuan yang terjebak kultur yang membuat mereka seolah menjadi masyarakat kelas dua: pendidikan dan kebebasan yang dibatasi. Misalnya di tanah sunda, perempuan seringkali diproyeksikan untuk hanya berkiprah di kasur, dapur, dan sumur. Dalam hal ini, peran laki-laki diperlukan untuk mendorong dan mendukung perempuan untuk tahu lebih jauh dunia luar dalam artian positif.

Menanggapi pernyataan dari salah satu peserta diskusi malam itu, Bu Netty menanggapi bahwa perempuan memang memiliki fitrah untuk mengurus keluarga, tetapi tidak perlu adanya larangan bagi perempuan untuk melakukan aktualisasi diri selama dia tidak meninggalkan kewajiban yang telah disepakati bersama. Seorang perempuan yang memiliki kiprah di luar rumah juga harus cerdas dalam menentukan skala prioritas, mengetahui mana yang penting, mana yang mendesak. (Untuk pembahasan penting dan mendesak, nanti saya tulis di postingan selanjutnya ya!)

Pembahasan lain yang saya tangkap dari studium generale bersama Bu Netty adalah tentang pernikahan. Bagaimanapun, pernikahan adalah siklus alamiah yang akan dijalani hampir semua manusia di dunia. Namun sayangnya masih banyak warga Indonesia yang memutuskan untuk menikah di usia yang sangat muda dan miskin visi misi. Pernikahan seperti itu sangat rentan dalam menyumbangkan generasi kurang baik untuk negara. 

Mengapa? 



Misal ada seorang perempuan menikah di usia 15 tahun. Secara pendidikan dia 'hanya' tamatan SMP. Siapa yang menikahinya? Sangat jarang ada laki-laki lulusan S1 atau S2 punya hasrat untuk menikahi perempuan yang belum 'matang' secara karakter dan pendidikan. Tentu secara umum, laki-laki yang menikahi gadis tersebut pun adalah laki-laki yang secara pendidikan bisa dibilang kurang. Mungkin yang sama-sama tamatan SMP atau tamatan SMA. 

Begitu perempuan tersebut hamil, mereka mungkin tidak akan memiliki pembahasan tentang cara yang baik dalam mengurus anak, bagaimana pendidikan anaknya kelak, dan hal-hal penting lain yang terlupakan. Kehidupan mereka mengalir tanpa rencana. Sampai suatu hari, di tengah derasnya perubahan dunia, masalah ekonomi seringkali menjadi pemicu kekurangtahanan sebuah rumah tangga yang tanpa rencana. Tidak jarang, pernikahan mereka putus di tengah jalan ketika sang anak sedang sangat perlu bimbingan orang tua. 

Apa yang biasanya terjadi?

Yang ada dalam pikiran perempuan tentu adalah bagaimana caranya mampu melanjutkan hidup dan punya penghasilan. Hanya punya ijazah SMP, mau jadi apa? Skill pun tidak ada. Akhirnya, tidak sedikit dari mereka yang memilih jalan seperti menjual diri atau menjadi TKI. Jika perempuan menjadi TKI, anaknya tentu tidak lagi dia asuh. Syukur jika anaknya diasuh oleh orang dewasa yang bertanggung jawab, nah lalu bagaimana jika anaknya diasuh oleh orang yang tidak bertanggung jawab?

Coba kita bandingkan dengan perempuan yang memiliki wawasan, perempuan yang mau menginvestasikan waktunya untuk belajar dan mendapatkan sebanyak-banyaknya pendidikan sebelum dia memutuskan untuk menikah dan melahirkan generasi selanjutnya...

Pernikahan terlalu dini pasti akan dia hindari. Seperti yang dibahas Bu Netty malam itu, perempuan yang berdaya secara finansial itu lebih memiliki harga diri. Pokoknya masa muda itu harus dipakai untuk mensukseskan diri. Misalnya Nabi Muhammad yang usia 25 tahun sudah berjaya secara finansial dan mampu memberi mahar kepada Siti Khadidjah dengan puluhan unta yang jika dikonversikan dengan rupiah di masa kini senilai dengan miliaran rupiah. Tidak ada larangan untuk menjadi kaya dan berdaya secara finansial.

Lalu bagaimana caranya?

Hauslah akan pendidikan. Dengan demikian, kita akan berwawasan. Dengan berwawasan, kita akan tahu jalan untuk meraih yang diimpikan. 

No comments:

Post a Comment